Emisi SInar X dari Luar Angkasa

Author : Pro Fisika | Published On : 07 Sep 2021

Estimasi Besar SInar X oleh Objek Luar Angkasa

Sinar ini mempunyai besar energi yang luar biasa, makanya meskipun bersumber dari galaksi nan jauh di sana, masih bisa kedeteksi sampai bumi.

Emisi SInar X

Rentang Frekuensi Sinar X

Rentang pita gelombang sinar X berada di antara 0.1 keV hingga 5 keV. Untuk kategori sinar X lembut berada di sekitar 1000 Tera Hz hingga 100000 Tera Hz). Mayoritasnya diisi oleh emisi dari gas panas (mulai dari 1000000 K hingga 100000000 K) yang mempunyai kerapatan kecil (0.0001 hingga 0.01 partikel per cm kubik), pancaran tersebut dilakukan oleh radiasi partikel bermuatan dalam medan Coulomb. Atau biasa disebut Bremsstrahlung termal.

Wujud gas begitu ramping secara visual dalam rentang pita tersebut. Sifatnya foton yang gampang diserap oleh awan hidrogen netral yang berseliweran di ruang antar bintang, menjadi kesulitan sendiri dalam mengamati pita sinar X lembut.

Grafik pemetaan sinar X paling banyak diisi oleh emisi bebas-bebas dari gas panas, tapi sejatinya proses emisi selain ini juga ada. Hampir setengah emisi sinar X nampak berada di arah kutub galaktik, sebab sepanjang bidang galaktik, sinar X diserap oleh awan hidrogen yang begitu banyak di piringan galaksi.

Peneyrapan Oleh Hidrogen Harus Dilibatkan

Karena kita memiliki peta persebaran Hidrogen di galaksi, penting sifatnya untuk mengkoreksi data yang diestimasi, meskipun pasti ada error sedikit. Koreksi data penyerapan ini wajib dilakukan sebelum data akurat berupa intensitas sinar X didapat.

Saat data koreksi penyerapan akibat bintang yang dilalui dibuat, luminositas sinar X dengan satuan ergon (usaha) tiap sekon dapat diperoleh. Angka ini bisa dihitung dengan mengkonversi satuan intensitas spesifik menjadi luminositas.

Beberapa koreksi tetap dibutuhkan untuk melibatkan faktor pengaruh luminositas akibat mekanisme emisi selain Bremsstrahlung yang tadi disebutkan. Meskipun emisi Bremsstrahlung termal bisa dianggap paling menonjol daerah pita sinar X lembut.

Peluang tersebut muncul, misalnya karena emisi bebas-terikat atau emisi garis. Dengan menganggap kalau emisi hanya berasal dari komponen yang tidak saling terikat. Catatan: Luminositas kepadatannya seragam, dan plasma suhunya tetap dengan Z = 1 dan ne = ni.

Penyerapan oleh disekitar bintang tersebut umumnya dianggap sebagai dampak yang tidak terduga dan harus dihindari. Kaerna dapat mengganggu emisi yang ingin diteliti, hingga berdampak salah perhitungan.

Penyerapan Itu Malah Membantu Memahami Sinar X

Anehnya, penyerapan akibat awan Hidrogen justru malah menolong kita mempelajari langit sinar X. Kelajuan benda yang mengeluarkan garis spektral bisa ditentukan lewat ingsutan Doppler garis tersebut.

Bagi awan Hidrogen di Bima Sakti, kecepatan ini dapat diartikan sebagai jarak dengan menganut model rotasi galaksi. Karena Hidrogen dipancarkan oleh segmen garis sepanjang 21 cm, maka sangat bisa untuk memodelkan margin jarak pada beberaoa awan Hidrogen di galaksi.

Cara tadi tidak berlaku bagi emisi yang sifatnya kontinyu, di mana sangat mustahil untuk mengetahui kelajuan. Ketika emisi kontinum diteliti, bisa saja pengamatan datang dari manapun di sekitar daerah pengamatan, dari gas panas sekitar atau dari titik nan jauh di sana.

Meskipun begitu, rician peta perseberan Hidrogen dengan asumsi jarak awan HI diketahui, dapat mempermudah menentukan seberapa bagian emisi sinar X datang dari gas di bagian depan atau bagian belakang.

Sinar X kontinyu pastilah berasal dari belakang awan tersebut, jika sebuah awan Hidrogen dapat mengaburkan emisi sinar X, sehingga ada batasan jarak untuk gas yang memancarkan sinar X. Efek ini telah digunakan untuk membantu kita memahami persebaran gas panas di persekitaran matahari, biasa disebut juga sebagai pembayangan dan.

Hasil analisis dan eksperimen ini masih perlu dikembangkan lagi, salah satu alasannya karena ketidakpastian posisi awan, dan faktanya jika koreksi sering tidak akurat gara-gara pengaruh matahari pada tata surya kita. Sebagai saran, beberapa cara menganalisis suatu masalah dalam fisika bisa kalian pelajari seperti ide yang diusulkan ISENG Belajar. Fokus utamanya yaitu pada akar masalahnya terlebih dahulu, baru ke persamaan matematisnya.

Meskipun begitu, tapi kita harus bersyukur, karena berdasarkan pengamatan tadi, bayangan konsep ini bisa muncul kalau matahari kita dianggap terletak di sebuah Gelembung Panas Lokal (Local Hot Bubble, LHB) di Bima Sakti.