Anggaran SEO Naik, Kesiapan AI Tertinggal: Membaca Kesenjangan Strategi Bisnis Indonesia

Author : wipelaw twugg | Published On : 06 Nov 2026

Sorotan atas kesenjangan antara kenaikan anggaran SEO dan kesiapan bisnis Indonesia menghadapi pencarian berbasis AI, serta langkah awal yang bisa diambil perusahaan untuk mulai mengukur visibilitasnya. Get more information about strategi GEO

 

Ada paradoks menarik dalam cara bisnis Indonesia bersiap menghadapi AI. Mayoritas perusahaan menaikkan anggaran optimasi mesin pencari, tetapi hampir tidak ada yang punya rencana untuk mesin yang justru sedang mengubah perilaku konsumen.

 

Survei terhadap 127 bisnis yang dilakukan PT Arfadia Digital Indonesia pada Januari sampai Februari 2026 memotret kesenjangan itu dengan jelas. Sebanyak 77 persen bisnis yang disurvei belum memiliki strategi formal untuk visibilitas di mesin pencari berbasis AI, padahal 73 persen responden mengaku menaikkan anggaran SEO pada 2025 sampai 2026. Uangnya bergerak, tetapi belum tentu ke arah yang baru.

 

Temuan ini dilaporkan CNBC Indonesia dalam liputannya tentang strategi GEO, yaitu upaya meningkatkan peluang sebuah merek untuk ditemukan, dikutip, atau direkomendasikan oleh layanan seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, dan Claude. Hanya 23 persen responden yang mengaku sudah memiliki strategi formal di area ini.

 

Mengapa kesenjangannya begitu lebar? Salah satu penyebabnya adalah cara kerja jawaban AI. Jawaban bisa berubah meskipun pengguna mengajukan pertanyaan yang sama, sehingga banyak perusahaan menganggap visibilitas AI tidak bisa diukur lalu menundanya. Padahal penelitian menunjukkan hal sebaliknya. Studi Rand Fishkin dari SparkToro dan Patrick O’Donnell dari Gumshoe.ai pada awal 2026 menemukan bahwa peluang mendapatkan daftar merek yang sama dalam dua jawaban memang kecil, kurang dari satu banding seratus. Namun, sejumlah merek tetap muncul dalam 60 sampai 90 persen jawaban untuk maksud pertanyaan tertentu.

 

Artinya, posisi dalam satu jawaban memang tidak stabil, tetapi frekuensi kemunculan adalah sinyal yang bisa dipantau. Perusahaan tidak perlu mengejar kepastian dari satu kali pencarian. Yang dibutuhkan adalah pengujian pertanyaan yang sama secara berulang, sambil mencatat merek dan sumber informasi yang muncul.

 

Lanskapnya juga tidak seragam antarplatform. Data rujukan chatbot untuk Indonesia menunjukkan dominasi ChatGPT yang jauh di atas Perplexity, Gemini, dan Claude, sehingga prioritas pengujian sebaiknya mengikuti platform yang benar-benar dipakai audiens. Data kasus yang dipublikasikan menunjukkan bahwa sitasi sebuah merek bisa menumpuk di satu platform dan nyaris kosong di platform lain. Rata-rata gabungan akan menyembunyikan celah tersebut.

 

Bagi perusahaan yang ingin memulai, langkah awalnya tidak mahal. Tulis pertanyaan yang benar-benar diajukan calon pelanggan, uji secara berulang di platform yang relevan, lalu catat hasilnya sebagai garis dasar. Dari situ baru terlihat apakah masalahnya terletak pada informasi yang sulit ditemukan, keunggulan yang tidak jelas, atau reputasi yang belum didukung cukup sumber.

 

Kesenjangan 77 persen tadi sebenarnya kabar baik bagi yang bergerak lebih dulu. Ketika mayoritas pesaing belum punya rencana, perusahaan yang mulai mengukur hari ini akan menjadi merek yang lebih dulu dikenal asisten AI esok hari.

 

Ada pula contoh konkret bahwa perubahan dapat diukur. Sebuah produsen baja struktural yang pada Desember 2024 sama sekali belum muncul dalam jawaban AI kini tercatat hadir dalam 680 respons di enam platform, dengan 97 kata kunci berada di posisi pertama AI Overview. Contoh lainnya, distributor peralatan kopi Toffin Indonesia, mencatat 334 sitasi terverifikasi dalam dua belas bulan, dengan distribusi yang sangat timpang antarplatform: 219 di Google AI Overviews, 67 di ChatGPT, 39 di Perplexity, sembilan di Copilot, dan nol di Gemini.

 

Kedua contoh itu sekaligus menjadi pengingat metodologis. Angka seperti 3,4 kali lebih banyak kutipan bagi pemilik strategi GEO formal berasal dari survei dan pengukuran internal, sehingga tidak bisa dibaca sebagai bukti sebab-akibat. Yang bisa diambil darinya adalah arah: bisnis yang mengukur dan mengelola visibilitasnya punya dasar untuk memperbaikinya, sedangkan yang tidak mengukur hanya bisa berharap.